Voice of Janassaries: Pertempuran Taiwan Melawan Covid-19

Hari Rabu sore (16/09), Divisi Kesehatan dan Olahraga melaksanakan kegiatan broadcast sebagai salah satu rentetan acara dari Janissary Program. Divisi dengan julukan Health and Sport of Janissary Program ini mengadakan broadcast secara rutin setiap hari Rabu dan Sabtu. Broadcast diselenggarakan secara live di ruang broadcast Universitas Darussalam Gontor PutriBroadcast dipilih karena dinilai dapat menyentuh seluruh mahasiswa. Selain itu, pembawaannya yang santai dan ringan lebih mudah untuk dicerna.

Pada broadcast perdana ini, saudara kita Chandha Desi dan Yusika Briliantama Mayang hadir sebagai broadcaster. Mereka menyuarakan informasi terkait strategi Taiwan dalam memanajemen penyebaran Covid-19. Sebagai negara yang berdekatan dengan Tiongkok, Taiwan sangat rentan terhadap penyebaran Covid-19.

Yusika menuturkan bahwa Pencapaian reputasi yang diperoleh Taiwan dalam menangani covid-19 patut di contoh oleh negara-negara lain, karena apa yang dilakukan oleh Taiwan telah mengeluarkan hasil. Salah satu strategiya dimana pemerintah Taiwan mengeluarkan kebijakan Travel Ban bagi orang-orang yang datang dari China. Penanganan covid-19 tidak hanya dilakukan secara eksternal namun, pengamanan juga dilakukan secara internal.

Sebelum permintaan masker meroket, pemerintah sudah menyetok persediaan masker, dan melarang pengeksporan masker ke luar negeri. Hal ini dilakukan pemerintah Taiwan agar ketika virus benar-benar menyebar masyarakat tidak kesulitan mencari masker sebagai alat pelindung utama.

Diakhir Broadcast, Chandha menyimpulkan bahwa strategi tersebut dapat dijadikan sebagai kaca perbandingan kebijakan bagi negara lain yang tengah berjuang menanggulangi penyebaran Covid-19. Meski begitu, tidak lupa dikatakan bahwa dari segala kebijakan Taiwan juga memiliki dampak tersendiri terutama perekonomiannya karena melaksanakan kebijakan Travel Ban.

Broadcast akan diselenggarakan kembali pada hari Sabtu. Waktu yang dipilih yaitu sore hari, ketika mayoritas Mahasiswi Darussalam Gontor sedang beristirahat dan melakukan kegiatan yang santai setelah beraktifitas dari pagi. Diharapkan melalui broadcast ini, mahasiswi yang menjalani keseharian di dalam pondok, tetap senantiasa update berita-berita terbaru di dunia luar sana.

Penulis: Publication of Janissary Program

Movie Review: American Sniper

Hari Selasa malam (15/09) Divisi Keilmuan atau Science Janassary mengadakan kegiatan Nonton Bareng (nobar). Acara ini diperuntukkan bagi seluruh mahasiswi HI Unida Mantingan. Nobar “American Sniper” dilaksanakan di gedung Granada, dan dimulai pukul 20.30 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari rentetan acara Janissary Program, yaitu kegiatan pengganti magang yang dilaksanakan Mahasiswi HI Semester 7 .

Nobar ini bukanlah nobar biasa, nobar sekaligus movie review ini bertujuan mengajak mahasiswi untuk berfikir dan menanggapi suatu persoalan melalui cara pandang/ perspektif HI. Karena ilmu dan teori Hubungan Internasional sejatinya tidak hanya dibahas dalam kelas atau forum akademis saja, namun perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu HI luas dan terbuka, maka dari itu diskusi adalah hal yang wajib dilakukan bagi akademisi yang berkonsentrasi di bidang Hubungan Internasional.

Movie Review American Sniper | Propaganda untuk Iran atau Muslim?

Film American Sniper adalah film biografi tahun 2014 yang disutradarai oleh Clit Eastwood dan produsernya adalah Bradley Cooper. Andrew Lazar, Robert Lorenz dan Peter. Jalan cerita film American Snipper diambil dari bukum dengan judul yang sama ditulis oleh Chris Kyle.  Secara keseluruhan, film tersebut menceritakan perjalanan Chris Kyle yang menjadi penembak jitu Amerika. Satu hal yang tidak tertulis dalam buku American Sniper  ialah bagaimana Chris Kyle meninggal. Namun akhri perjalanan Chris Kyle mejadi akhri cerita dari film American Snipper diambil dari kisah yang didapatkan istrinya.

Apa yang terjadi dalam film American Sniper ?

Film American Snipper memberikan kita semua pelajaran bahwa perang bukanlah keinginan rakyat sipil. Bahkan seorang tentara juga tak menginginkan adaya perang. Ini dibuktikan dengan tekanan batin dari Kyle yang telah membunuh banyak warga negara di wilayah musuh. Higga pada akhir hayatya ia belum bisa berdamai dengan tekanan batin tersebut.

Tetapi bagi negara Iran, film America Snipper telah melakukan propaganda anti-Muslim. Dalam film tersebut, perang Amerika – Iran dijadikan latar cerita perjalanana hidup penemak Chris Kyle. Penggambaran  Ira dalam film tersebut dinyatakan menghina Irak. Warga Irak selalu digambarkan berpakaian serba hitam. Selain itu, hanya wanita dan anak kecil yang mengangkat senjata untuk membela diri.

Pernyataan tersebut lebih karena adanya hubungan buruk Iran dengan Amerika. Penggambaran buruk tentang Iran di American Snipper dapat dikatakan memang untuk mempengaruhi citra Iran memlalu film. Alasan penampilan Muslim yang disorot dalam American Snipper dikarenakan mayoritas warga Iran beragama Islam.

Jika melihat dari karakter politik Amerika, negara tersebut tidaklah membenci agama Islam. Namun memang lawan politiknya adalah negara-negara pemeluk muslim terbanyak. Seperti Iran, Suriah, Lebano, Irak dan negara Timur Tengah lainnya.

sumber:
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20150218120807-120-33069/khamenei-american-sniper-film-propaganda-anti-islam

Penulis: Publication of Janassary Program

Kegiatan Pengganti Magang : Janissary Program 2020

 

Hari Rabu (9/9/2020) Mahasiswi Semester 7 Program Studi Hubungan Intenasional Universitas Darussalam Gontor berkumpul untuk melaksanakan pembukaan kegiatan pengganti magang. Acara ini dilaksanakan pukul 08.00 di Aula Laboratorium Ilmu Kesehatan Lantai 3, dan dihadiri oleh tiga dosen hubungan internasional melaui zoom platform. Ketiga dosen tersebut yaitu Al-Ustadz Fadhlan Nur Hakiem, Al-Ustadzah Ida Susilowati, dan Al-Ustadzah Dini Septyana Rahayu. Pembukaan diresmikan oleh Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Al-Ustadz Fadhlan Nur Hakiem, M.Si.

An Extraordinary Program

Kegiatan Magang tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Semester ini mahasiswi Universitas Darussalam tidak diperkenankan melakukan kegiatan diluar kampus karena pandemi. Maka kegiatan magang tidak bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu, kegiatan magang Mahasiswi Hubungan Internasional dialihkan menjadi kegiatan lain di dalam kampus. Kegiatan alternatif magang ini dinamai “Yanissary Program”, yaitu kumpulan kegiatan dan program kerja yang bertujuan mendukung dan memajukan program studi Hubungan Internasional terutama di Kampus Mantingan.

Dalam acara ini, para dosen memberikan pesan-pesan penting sebagai bekal bagi para peserta kegiatan. Al-Ustadz Fadhlan menyampaikan bahwa magang menjadi salah satu kegiatan yang mampu mengasah kemampuan non-akademis. 10 skill yang dapat diperoleh dari kegiatan luar kelas yaitu: Complex problem solving, Critical thinking, Creativity, People management, Coordinating with others, Emotional intelligent, Judgment and decision making, Service orientation, Negotiation, dan Cognitive Flexibility. Skills tersebut sangat penting sebagai bekal menuju dunia kerja, maka setelah menjalankan program ini, mahasiswi diharapkan mampu belajar dan menguasai 10 skill tersebut.

Pesan selanjutnya disampaikan oleh Al-Ustadzah Ida. Beliau berpesan mahasiswi perlu menciptakan kesadaran untuk saling mengingatkan satu sama lain. Selain itu, mahasiswa perlu berkonsultasi dengan dosen pembimbing untuk setiap acara. Miss Dini juga berpesan, meski kegiatan berada di instansi sendiri, namun etika tetap harus diperhatikan. Kegiatan dijalani tidak hanya sekedar untuk menuntaskan kewajiban, namun untuk belajar bertanggung jawab dalam mengemban amanah. Miss Dini juga mengingatkan tentang pentingnya tertib dalam administrasi dan laporan kegiatan agar tidak kesulitan di akhir kegiatan.

Pengarahan Program Pengganti Magang oleh Al-Ustadz Mohamad Latief
Pengarahan Program Pengganti Magang oleh Al-Ustadz Mohamad Latief
Kunci Sukses: Aktif dan Semangat

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan pertemuan mahasiswi dengan Al-Ustadz Mohamad Latief, dosen sekaligus Wakil Dekan Fakultas Humaniora. Miavania dan Sarah Jasmine sebagai ketua kegiatan, mewakili seluruh peserta kegiatan mempresentasikan program kerja kegiatan pengganti magang ini. Kegiatan ini terdiri dari 5 divisi yaitu Divisi Keilmuan dan Bahasa, Divisi Laboratorium, Divisi Arsip dan Publikasi, Divisi Olahraga dan Kesehatan, serta Divisi Spiritual. Masing-masing divisi memiliki program kerja, yaitu kegiatan-kegiatan yang melibatkan mahasiswi Universitas Darussalam, terutama mahasiswi Hubungan Internasional. Seluruh kegiatan melibatkan koordinasi dan Kerjasama dengan dosen, selaku pembinging kegiatan.

Al-Ustadz Latief sangat mengapresiasi kegiatan ini. Meski magang tahun ini berbeda, namun beliau berpesan jangan sampai semangat mahasiswi mengendur. Tidak boleh ada waktu kosong. Kegiatan harus terus berjalan, bergantian dari satu kegiatan menuju kegiatan yang lain. Seperti dalam motto pondok: تحركْ فإن في الحركة بركة . Barakah artinya ziyaadatu-l-khair, atau kebaikan yang terus bertambah. Artinya, dengan adanya kegiatan pengganti magang, adalah wujud upaya mahasiswi untuk senantiasa aktif dalam kegiatan demi meraih kebaikan yang  terus mengalir.

Setelah peresmian kegiatan ini, diharapkan kegiatan pengganti magang atau Janassary Program dapat berjalan dengan lancar. Semoga dapat memberikan manfaat bagi para mahasiswi Hubungan Internasional, khususnya peserta kegiatan yaitu Mahasiswi Semester 7. Harapan kami, semoga kegiatan ini dapat menjadi bagian dari dinamika Program Studi Hl yang akan mengantarkan Program Studi HI menjadi program studi unggul dan aktif di Univeristas Darussalam Gontor Kampus Mantingan.

Penulis: Publication of Janassary Program

DIPLOMASI RASULULLAH SAW SEBAGAI MEDIA DAKWAH PEMERSATU BANGSA

 

Diplomasi Rasulullah SAW
Diplomasi Rasulullah SAW

Perbedaan antara bangsa, suku, kabilah, dan etnis merupakan permasalahan kompleks dalam sistem tatanan sosial. Seringkali terjadi konflik antar bangsa dikarenakan perbedaan tujuan dalam meraih kepentingan. Tidak hanya dari segi kepentingan, tetapi juga dari segi kewibawaan identitas, sehingga menyebabkan kasus okupasi wilayah, aneksasi perniagaan, dan penindasan etnis begitu marak terjadi. Para pemimpin dari tiap bangsa saat itu semakin menyadari, bahwa ketergantungan antar bangsa lain sangatlah penting guna membentuk aliansi, serikat dagang, bilateral, multirateral, dan sampai saat ini kita mengenal istilah tersebut dengan “hubungan diplomatik”. (Widagdo, 2008)

Pembukaan hubungan diplomatik tentunya melalui tahapan panjang, bisa karena nasib yang sama atau kepentingan yang serupa, yang demikian umumnya melalui jalur high politic. Ada juga bentuk diplomasi dilakukan sebagai bentuk interpersepsi terhadap objek negara yang dituju. Interpersepsi yang berupa ajakan dan seruan ini dilakukan tanpa kekerasan atau bisa disebut dengan low politic. Low politic dalam berdiplomasi menurut (Jackson, 2007) dalam bukunya Introduction of International Relations ialah segala hal yang difokuskan kepada masalah keberlangsungan hidup, seperti ekonomi sosial, keamanan manusia, dan kesejahteraan negara. Jika di era globalisasi sekarang low politik merupkan penunjang kesuksesan suatu negara dalam berdiplomasi, lantas bagaimana diplomasi low politik diterapkan di zaman pre-globalisasi?

Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penulis akan mengambil contoh hubungan diplomatik bangsa-bangsa arab yang eksis di abad 50 sebagai bentuk studi kasus. Jika kita meninjau kembali tentang bangsa-bangsa arab di abad 50, maka pengaruh terbesar pada saat itu adalah Dakwah Nabi Muhammad SAW. Hal ini dibuktikan dengan pengaruh dakwah Beliau yang makin meluas hingga semenanjung daratan timur tengah, kemudian upaya Beliau dalam mempersatukan bangsa-bangsa dengan satu ikatan akidah ukhuwwah islamiyyah. Dari sini dapat dilihat, bahwa diplomasi low politic telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam konsentrasi masalah keberlangsungan hidup dan keamanan manusia. Berbagai upaya yang dilaukukan Rasulullah dapat membuktikan aktivitas diplomasi low politik dengan berdamai begitu kuat dalam dakwah Islam. Rupanya ada korelasi kuat antara diplomasi dan dakwah dalam mempersatukan umat manusia dan membangun peradaban Islami.

Landasan dasar diplomasi islam sebagai media berdakwah adalah Al-Qur’an dan Hadist. Kedua dalil naqli ini telah membentuk keyakinan asasi umat Islam sehingga membentuk satu sitem tatanan kehidupan yang harmonis. Adapun dalil naqli yang digunakan sebagai landasan untuk mempersatukan bangsa-bangsa adalah surat Al-Baqarah: 213. Ayat tersebut menjelaskan tentang masalah perpecahan umat, yang berbunyi;

“manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar , untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al_Baqarah: 213)

Tafsiran ayat di atas adalah bahwa dahulu kala semua manusia merupakan umat yang satu (Hnafi, Aguk, & Faisal , 2013), setelah mereka berselisih akhirnya terpisah dan membentuk kesatuan sesuai keyakinan yang mereka yakini, hingga membentuk sebuah bangsa, suku, kabilah. Untuk mengembalikan kembali istilah (Ummatan Wahidah) umat yang satu maka Allah mengutus para nabi. Sebagai contoh yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW dengan upaya beliau untuk mempersatukan bangsa-bangsa, kerajaan-kerajaan, kabilah-kabilah yang berada disekitar Madinah. Cara terbaik Rasulullah dalam mempersatukan umat yakni dengan Diplomasi, maka tak heran jika Diplomasi Islam merupakan media dakwah dalam mempersatukan umat.

Diplomasi Rasulullah SAW
Diplomasi Rasulullah SAW

 

Kesuksesan Rasulullah dalam memersatukan umat manusia dan memperluas wilayah Islam banyak ditentukan oleh kepiawaian beliau dalam berdiplomasi, daripada melalui peperangan. Karena, kekuatan umat Islam pada saat itu tidak sebanding dengan kekuatan Romawi barat dan Romawi Timur, tetapi dengan segala keterbatasannya Rasulullah mampu menyaingi kedua kerajaan besar tanpa berperang. Cara terbaik beliau dalam berdiplomasi adalah dengan mengirim risalah dakwah yang dibawa oleh diplomat utusan Rasulullah SAW. Mulanya, para diplomat membawa misi dakwah Islam, tetapi keberhasilan dalam dakwah membawakan hasil dari interpersepsi diplomat Rasulullah terhadap suatu kerajaan yang dituju. Diantara kesuksesan Diplomasi Islam Rasulullah SAW adalah sebagai berikut;

  1. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Muqauiqis, dibalas dengan hadiah 4 budak perempuan, seekor kuda (Baghal), seekor kedelai (Duldu), dan 20 helai kain sutra Mesir;
  2. Surat Nabi Muhammad kepada Kaisar Heraklius yang isinya “Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam, maka masuklah Islam agar engkau selamat, dan niscaya Allah akan membalasmu dengan ganjaran dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya bagimu dosa seluruh pengikutmu.”;
  3. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Najasyi di Ethiopia;
  4. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Gassan, Jaballah bin Aiham, surat tersebut dibalas dengan kesediaan Raja Gassan bersama keluarganya untuk bersyahadat;
  5. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Thaif.

Kesimpulan, Diplomasi Islam yang diglakkan oleh Rasulullah adalah media Dakwah dalam mempersatukan umat manusia. Hal ini didasari oleh dalil Naqli surat Al-Baqarah ayat 213 yang bermakna bahwa umat manusia dahulunya merupakan umat yang bersatu, setelah mereka berselisih akhirnya manusia terpecah menjadi beberapa golongan, maka Allah menurunkan para Nabi untuk kembali mempersatukan manusia. Dalam konteks perpecahan umat, konotasi maknanya menjurus kepada bangsa-bangsa besar yang telah lama saling berselisih. Kemudian, para Nabi atau Rasulullah datang kepada mereka menyebarkan nilai-nilai Islam dan berupaya untuk menyatukan bangsa-bangsa dengan cara negosiasi, interpersepsi, dan diplomasi. Sebagai contoh kesuksesan dakwah Rasulullah dalam praktek diplomasi adalah bukti balasan kabar baik dari para diplomat Rasulullah sepulangnya dari tugas menyampaikan Risalah Dakwah Islam.

REFERENSI

Jackson, R. (2007). Introduction of International Relations. New York: Oxford University Press.

Hnafi, M. M., A. I., & F. S. (2013). Enslikopedia Pengetahan Al-Qur’an dan Hadist Jilid 7. Jogjakarta: Kamil Pustaka.

Umar, N. (2019, June 3). Diplomasi Surat Menyurat Nabi. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/239218-diplomasi-surat-menyurat-nabi

Umar, N. (2019, May 24). Jihad Nabi: Diplomasi. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/239218-diplomasi-surat-menyurat-nabi

Nasrullah, N. (2017, August 25). Diplomasi, Cara bangun peradaban. Retrieved from Replubika: https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/08/25/ov8di8313-diplomasi-cara-islam-bangun-peradaban

Widagdo, S. (2008). Hukum Diplomatik dan Konsuler. Malang: Bayumedia.

 

 

 

 

Karantina Tahfidz Prodi Hubungan Internasional dalam menghadapi Ujian Hafalan Al-Quran

Salah satu dari kegiatan penting dan menjadikan UNIDA Gontor mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan Universitas Islam lainnya adalah Hafalan Al-Quran rutin setiap sehabis maghrib.  Hafalan Al-Quran sendiri menjadi salah satu persyaratan utama bagi seluruh Mahasiswa untuk dapat mengikuti Ujian Akhir Semester. Bahkan meskipun sudah sampai jenjang Mahasiswa tingkat akhir hal ini menjadi syarat untuk bisa menjalankan sidang skripsi.

Bertepatan dengan Senin malam (09/07), Cluster Program reinforcement berkerjasama dengan HMP-HIU mengadakan karantina tahfiz bagi seluruh Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional.  Acara ini sendiri bertempat di Masjid Jami’ UNIDA dan berlangsung selama empat hari, mulai dari senin sampai dengan hari kamis. Adapun tujuan dari diadakannya karantina ini adalah untuk mempermudah hafalan Al-Quran Mahasiswa dalam menghadapi ujian Tahfizu-l-Quran. Dimana ujian tersebut akan diadakan oada hari Jumat tepat setelah karantina selesai.

Para Muhafiz (Pembimbing hafalan) mulai dari Dosen sampai dengan Mahasiswa pascasarjana pun turut hadir dalam membimbing dan menguji hafalan Mahasiswa dari tiap semester. Selain itu beberapa Mahassiswa pun diangkat untuk membantu para Muhafiz dalam menguji hafalan teman-temannya. Sehingga nantinya Mahasiswa juga bisa mentaqdimkan hafalan kepada temannya yang telah dipilih tersebut.

Untuk dapat mengikuti ujian setiap Mahasiswa UNIDA sendiri diwajibkan untuk dapat menyelesaikan hafalan sampai lima lembar setiap juznya. Setiap semester mendapatkan batasan hafalan Juz Al-Quran yang berbeda-beda sebagaimana ketentuan dari kampus. Mulai dari semester satu yang harus menyelesaikan hafalan juz 29 selama satu tahun. Selanjutnya semester tiga yang harius menyelsaikan Juz satu Surah Al-Baqarah sampai dengan ayat 140. Dan kemudian berlanjut sampai dengan Juz dua pada tahun ketiga atau semester lima. Sedangkan untuk semester tingkat akhir mendapatkan bagian untuk menyelesikan hafalan sampai dengan juz tiga. Mahasiswa tingkat akhir pun juga dituntut untuk menyelesaikan hafalannya masih kurang dari tahun tahun sebelumnya.

Oleh: Byan