Matrikulasi Bahasa: Belajar Mencintai Bahasa Arab Bersama Language Janissary

Apa yang terbesit dalam benak kalian saat mendengar “Bahasa Arab”? Mungkin sebagian dari kita langsung terngiang “nahwu” atau “shorfu”. Sebagian lain mungkin akan berfikir “Bahasa arab sulit” “Bahasa arab rumit”. Bahasa Arab menjadi elemen yang penting untuk dipelajari bagi Mahasiswi HI Unida.  Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa pengantar dalam perkuliahan, dan inilah yang menjadi keistimewaan HI Unida dengan HI di universitas lainnya. Manfaat belajar Bahasa arab tentu sangatlah banyak, diantaranya untuk mempermudah mahasiswi dalam pembelajaran TOAFL atau ujian Bahasa Arab, sebagai bekal ilmu untuk skripsi di semester akhir, serta untuk mempermudah mahasiswi dalam menghafalkan Al-Qur’an dalam program Tahfidz.

Program Matrikulasi

Bersama Janissary, belajar bahasa arab bisa menjadi santai dan menyenangkan. Language Janissary atau Divisi Bahasa program Janissary menyelenggarakan Matrikulasi Bahasa Arab. Kegiatan ini diperuntukan bagi Mahasiswi HI semester 1, 3, dan 5. Matrikulasi bahasa arab diadakan tiga kali dalam seminggu, yaitu hari Sabtu, Senin, dan Rabu di Gedung Granada

Matrikulasi Bahasa Arab Bersama Language Janissary
Matrikulasi Bahasa Arab Bersama Language Janissary. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pelaksanaan Program

Materi dan waktu matrikulasi berbeda-beda untuk setiap angakatan. Untuk angkatan Semester 1 matrikulasi diadakan pada hari Sabtu bersama penanggung jawab, Salsabila Nadhira dan Rayi Adita. Materi yang dipelajari yaitu insya’ dan dobdu maqalah. Materi tersebut dipilih karna sesuai untuk mahasiswa baru untuk mengulang materi yang telah dipelajari sebelumnya ketika KMI agar tetap fresh dan tidak begitusaja dilupakan. Bagi mahasiswi dari non-KMI, materi ini menjadi materi dasar sebelum mempelajari materi di tingkat yang lebih jauh. Setelah penjelasan materi, peserta mengerjakan latihan soal dan dikumpulkan untuk kemudian dikoreksi oleh Divisi Bahasa.

Hari Senin yaitu jadwal matrikulasi untuk Semester 3 dengan penanggung jawab Oktarina dan Aulia Anggraini. Materi yang dipelajari yaitu Nahwu dan Tamrin Lughoh. Materi ini dipelajari untuk mempersiapkan ujian Bahasa, yang akan dihadapi di semester 5 nanti. Kedua materi ini sangat penting untuk dipelajari karena sebagai kunci pemahaman Bahasa Arab.

Divisi Bahasa Program Janissary 2020
Divisi Bahasa Program Janissary 2020. Sumber: dokumentasi pribadi.

Matrikulasi untuk semester 5 diadakan pada hari Rabu. Pengampu dari Divisi Bahasa yaitu Veta Lambiombir dan Mustika Ayu. Materi yang dipelajari yaitu kosa kata atau Mufrodhat yang berkaitan dengan penulisan tugas akhir atau skripsi. Materi ini penting sebagai persiapan bagi semester 5 untuk persiapan penulisan skripsi, terutama yang ingin menulis skripsinya dengan Bahasa arab.

Harapan

Kegiatan matrikulasi ini diharapan bisa membantu para mahasiswi Hubungan Internasional dalam belajar dan mendalami Bahasa arab. Sehingga dapat menumbuhkan skill Bahasa arab yang akan bermanfaat di masa yang akan datang. Belajar bahasa itu mudah, jika kita mencintai prosesnya, dan menjalaninya dengan sepenuh hati.

Oleh: Publication Division Janissary Program 2020

Memperluas Khazanah Pengetahuan melalui Webinar Series oleh Divisi Keilmuan Janissary Programme 2020

Divisi Keilmuan Janissary Programme 2020 mengadakan webinar series yang diadakan 3 kali selama masa Janissary Programme 2020. Webinar series merupakan salah satu program yang dicanakan divisi keilmuan untuk meningkatkan kualitas intelektual mahasiswi UNIDA, terutama mahasiswi Hubungan Internasional. pembicara yang diundangpun merupakan para akademisi Hubungan Internasional yang memang ahli dengan beberapa isu-isu kontemporer.

Webinar Series #1 : Women’s Role on Social, Politic, and Economic Along Pandemic.

webinar Divisi Keilmuan Program Janissary 2020
Webinar Divisi Keilmuan Program Janissary 2020. Sumber: dokumen pribadi

Webinar Series pertama kali dilaksanakan pada hari Senin, 28 September 2020 pukul 09.00. Pembicara pada webinar series #1 diantaranya ialah Ustadzah Dr. Syarifah Gustiawati Mukri, MEI yang berprofesi dosen Program Studi Ahwal Syakhsiyah Universitas Ibnu Khaldun, Ustadzah Azimatul Noor Bashari Diyanti, S.Th.I, M.A yang merupakan Motivator Trainer-Consultant dalam Alfanoor Home dan Ustadzah Ida Susilowati, M.A, Dosen Hubungan Internasional Universitar Darussalam Gontor. Webinar tersebut dimoderatori oleh Zaklyyah Widad Zaenal, mahasiswi Hubungan Internasional semester 7.

Masing-masing pembicara menyampaikan bagaimana peran perempuan di bidang sosial, politik dan ekonomi disaat Pandemi Covid-19. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki perempuan, mereka tetap memiliki kewajiban aktif di masyarakat dalam bidang apapun itu, khususnya sosial, politik dan ekonomi. Bahkan disaat Pandemi Covid-19.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, media sosial mampu digunakan sebagai alat dalam menyampaikan ilmu yang dimiliki oleh perempuan demi membangun masyarakat. Namun perlu diingat, keaktifan perempuan ditengah masyarakat juga harus dimbangi dengan fitrahnya dalam keluarga.

Webinar Series #2 : The Normalization of UAE-Israel Bilateral Relations Amid Palestinian Cause

Pada webinar series #2, tema yang diangkat adalah isu kontemporer kontroversional normalisasi UAE-Israel. Webinar diadakan pada hari Selasa, 29 September 2020 dengan pembicara Ustadz Hasibullah Satriawan yang ahli dalam analisis politik Timur Tengah dan Dunia Muslim bersama Ustadz Ali Musa Harahap, Dosen Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor. Acara tersebut dimoderatori oleh Aulia Anggraini, Mahasiswi Hubungan Internasional semester 7.

Pembicaraan dalam Webinar series #2 menguak fakta yang dipahami oleh mayoritas Muslim. Banyak muslim, bahkan muslim Indonesia yang menolak adanya normalisasi hubungan bilateral UAE-Israel. UAE dianggap sebagai penghianat karena membuka hubungan bilateral dengan Israel yang selama ini menyerang Gaza, Palestina.

Normalisasi UAE-Israel merupakan salah satu solusi yang diambil UAE dalam menyelesaikan konfliknya dengan para lawan politik di Timur Tengah. Tindakan tersebut memang murni didasari strategi politik UAE dan tidak ada tujuan untuk mengkhianati sesama Muslim Palestina. Sebaliknya Iran menguatkan pengaruhnya pada  Palestina sebagai strategi politiknya melawan UAE.

Dengan webinar series #2, membuka mata bagi pada Mahasiswi Hubungan Internasional dalam menganalisis fenomena saat pandemi Covid-19. Untuk itu, kita sebagai Mahasiswi Hubungan Internasional harus lebih jeli melihat sebuah konflik karena adanya kepentingan agama. Jangan sampai konflik tersebut merusak Ukhuwwah Islamiyah kita secara global.

Webinar Series #3 : Asia-Pasific Security Studies: A Threat to Human Security in Pandemic Era

Webinar Divisi Keilmuan Program Janissary #2
Webinar Divisi Keilmuan Program Janissary #3. Sumber: dokumen pribadi

Kemudian terakhir ialah Webinar Series #3 yang membawa tema Asia-Pasific Security Studies: A Threat to Human Security in Pandemic Era. Narasumbernya merupakan Dosen Ilmu Hubungan Internasioanl Universitas Airlangga, Surabaya, yakni Dra. Baiq L.S. Wardhani, M.A., Ph. D dengan moderator Ustadzah Zahidiyah Ela Tursina, S.Sos, M.Hub.Int dosen Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor.  Webinar tersebut diadakan pada Rabu, 7 Oktober 2020.

Ibu Ani menjelaskan terkait fenomena kekerasan pengungsi di Asia Pasifik. Pada pemaparannya, Ibu Ani mengambil studi kasus kekerasan pengungsi perempuan di Rohingya. Pengungsi perempuan menjadi kelompok yang rentan terhadap kekerasan, baik dari sesama kelompok pengungsi atau pihak luar kelompok. Budaya patriarki menjadi faktor utama yang dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan pada perempuan, bahkan untuk pengungsi perempuan.

Saat pandemi seperti ini, kerentanan kekerasan terhadap pengungsi perempuan Rohingya lebih besar. Kondisi pandemi membuat beberapa pelaku melampiaskan keterbatasan yang disebabkan situasi Covid-19 terhadap perempuan, utamanya pengungsi perempuan. Kekerasan tidak hanya berupa ancaman fisik namun juga bisa persedian fasilitas kebutuhan pokok yang tidak merata. Tentu perilaku tersebut melanggar Hak Asasi Manusia terhadap perempuan, bahkan mereka yang menjadi pengungsi perempuan.

Keterbatasan gerak bagi pengungsi perempuan membuat mereka tidak bisa melawan. Bahkan akses untuk mendapatkan dukungan HAM dari pengungsi perempuan terbatas karena posisinya sebagai pengungsi. Namun, tetap saja kekerasan pengungsi perempuan di Rohingya merupakan ancaman keamanan manusia bagi pengungsi Rohingya.

Harapan Webinar Series

Dengan adanya webinar series ini diharapakan bisa memperluas khazanah pengetahuan bagi akademisi Hubungan Internasional, khsusunya fenomena yang terjadi saat pandemi Covid-19. Ternyata dengan adanya kegiata webinar series ini, menunjukkan bahawa pandemi Covid 19 tidak hanya berpengaruh pada sektor kesehatan. Tapi juga berpengaruh pada keamanan, ekonomi, politk dan sosial secara global.

Semoga acara-acara webinar ini dapat menjadi sarana menuntut ilmu ditengah pandemi, dan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

oleh: Divisi Publikasi Program Janissary 2020

Review Buku “100 Tahun Mohammad Natsir Berdamai dengan Sejarah”

“100 Tahun Mohammad Natsir Berdamai dengan Sejarah” merupakan buku yang diterbitkan oleh penerbit Republika. Untuk mengenang kilas balik serta rekam jejak Pak Natsir Pahlawan yang nyaris terlupakan. Buku ini diterbitkan pada tahun 2008 dan berjumlah 479 halaman. Ditengah pandemi Covid-19 ini waktu luang merupakan keniscayaan, membaca buku cukup relevan untuk mengisi kekosongan semasa pandemi. Era globalisasi yang masif seyogyanya tidak serta merta membuat kita melupakan sejarah, karena sejarah menyimpan banyak hal yang menakjubkan. Mohammad Natsir sang guru bangsa sepanjang masa dan salah satu politikus ulung. Sudah tak asing lagi ditelinga kami para penuntut ilmu dan rakyat Indonesia.

PRIBADI NATSIR

Natsir kecil tidak datang dari keluarga bangsawan. Ia datang dari keluarga kecil pencari kayu bakar untuk mencari makan, tapi pekerja keras dan cerdas. Sejak usia belia Natsir sudah menguasai banyak Bahasa yaitu Perancis, Latin, Inggris, Belanda, dan Arab. Natsir remaja terkenal dengan anak yang pemberani dan pekerja keras. Ia mampu mengupas tuntas perihal kapitalis Belanda. Juga dampak buruknya terhadap kemelaratan rakyat Jawa Tengah dan Jawa Timur dan membacakannya didepan guru Belanda. Kecerdasan yang dikaruniakan kepadanya tidak lantas membuatnya menjadi kutu buku yang tak pandai berosialisasi. Beliau menyukai musik dan aktivitas sosial diluar sana.

Natsir juga pemimpi yang hebat, setelah menamatkan studinya di AMS (setara SMA) Natsir tidak ingin melanjutkan kuliah. Natsir ingin merelisasikan mimpinya mendirikan pendidikan anak muda. Natsir merupakan teladan kesederhanaan gaya hidup bagi bangsa Indonesia. Santun dalam pergaulan, ketenangan dalam berdebat, bersih dalam hal keuangan, dan sangat menghormati etika. Bagi anak-anaknya, Natsir merupakan pribadi yang yang bijaksana, tidak memaksakan kehendak, dan teladan seumur hidup. Aba, begitu beliau dipanggil oleh anak-anaknya.

PEMIKIRAN NATSIR

Natsir memiliki pemikiran yang sangat jernih, tutur kata yang rapi dan bersubstansi, dan konstribusi politik yang santun. Natsir telah mengenal ilmu pembaruan islam sejak kecil setelah berguru pada beberapa ulama’ di Padang. Setelah pindah ke Bandung untuk melanjutkan studinya di AMS, keinginannya untuk memperdalam ilmu agama menjadi lebih besar. Natsir mengkaji ilmu agama melalui kajian-kajian yang diselenggarakan oleh Persatuan Islam (Persis) oleh Ahmad Hasan. Natsir muda juga membaca tafsir Fi Dzilalil Qur’an, ibnu Katsir, dan Al-Furqan.

Natsir menciptakan inisiatif lembaga pendidikan, sehingga lahirlah Pendis (Pendidikan Islam) dan mendirikan Pesantren Persatuan Islam. Natsir juga aktif dalam hal kepenulisan ia adalah penulis yang kreatif, baik dalam surat kabar, majalah, dan buku. Dalam proses kaderisasi oleh Ahmad Hasan Natsir menjadi kelompok modernis dengan kejujuran dan intelektualitas tinggi. Bagi Natsir, islam bukan sebagai agama melainkan pandangan hidup yang meliputi ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Islam baginya tidak memisahkan antara agama dan kenegaraan, islam adalah primer.

Pemikiran politik Natsir, tidak lepas dari pendidikan dan pembetukan dirinya sendiri. Natsir dibentuk dengan pemikiran modern dan juga pendidikan islam. Hal ini menjadikan Natsir masyhur sebagai intelektual yang tetap membela dan memperjuankan nilai-nilai Islam. Pemikiran Natsir mengenai nasionalisme dan demokrasinya cukup diwarnai pemikiran Barat modern. Bagi Natsir nasionalisme adalah fitrah manusia untuk mencintai tanah airnya. Namun, tetap harus beriringan dengan nilai keagamaan agar tidak ada fanatisme yang berlebihan. Begitupula demokrasi, pemikiran Natsir mengenai ini tren terhadap demokrasi modern dan memakai prinsip keislaman yaitu syura’. Natsir mengintegrasikan teori kedaulatan rakyat dan teori kedaulatan Tuhan. Sehingga bagi Natsir islam menganut sistem politik theistic democracy.

MOSI INTEGRAL NATSIR

Kala itu Indonesia yang sudah merdeka tetap dikungkung sistem federal hasil rekayasa Belanda. Republik Indonesia Serikat (RIS), hasil dari Konferensi Meja Bundar ini tidak membuahkan hasil sebagaimana ekspektasi bangsa sebelumnya. Melainkan menyebabkan negara terlilit hutang dan terjadi keresahan di negara-negara bagian. Di Negara Indonesia Timur (NIT) terjadi krisis militer dan separatisme. NKRI sepertinya hanya menjadi angan bagi rakyat kecil yang menuggu kepastian para pembesar negara.

Sehingga, ditengah situasi dan kondisi nasional yang sangat genting Natsir hadir dengan gagasan mosi integralnya. Yang mana membubarkan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan menyatukan kembali NKRI. Dengan cara melobi elite politik dengan perbawanya dan kecakapannya dalam bersosialisasi. NKRI bukan lagi menjadi angan, NKRI merupakan realisasi visi bukan hanya ilusi semata. Proklamasi kedua digaungkan pada pada tahun 1950 dan memakai dasar negara UUD sementara 1950.

Belum tibakah saatnya bangsa ini melupakan dendam masa lalu dan berdamai dengan sejarah?

 

 

 

“Harnessing Diplomacy For International Development”, Peran Diplomasi Mempermudah Pembangunan Internasional.

Mantingan, 21 September 2020, pada pukul 20.00 WIB. Mahasiswi program studi Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor Kampus Mantingan mengadakan sebuah webinar dengan tema “Harnessing Diplomacy For International Development” . Bertempat di Aula Aisyah Gontor Putri kampus 1. Webinar ini merupakan salah satu rentetan acara Leadership bagi semester tiga program studi Hubungan Internasional.

Webinar ini diisi oleh ketua dosen di salah satu Universitas di Gorontalo yaitu Ayu Anastasya Rahman, SIP, MA. Beliau ialah Influencer muda yang memotivasi generasi muda untuk harus bersifat aktif, kreatif, produktif dan inovatif. Melda Nurul Afiffah sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional periode 2020-2021 menjadi moderator acara. Webinar ini bukan hanya diikuti oleh mahasiswi UNIDA saja melainkan juga dari kampus luar.

Diplomacy Untuk Pembangunan Internasional

Dalam tema yang diangkat, beliau mendiskusikan perihal diplomasi untuk pembangunan Internasional, yaitu praktik diplomasi. Dimana Negara-Negara melakukan diplomasi untuk melacarkan perjanjian internasional baik keamanan internasional ataupun bisnis internasional. Pada hakikatnya masalah pembangunan  membahas tentang kesenjangan misalnya kesenjangan antara golongan phery-phery dan golongan core.

Maka, agar dapat mengejar ketertiggalan dan menciptakan dunia yang equal. Muncullah, kesetaraan SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) sebagai isu sentral bagi sebuah pembangunan. Beliau menjelaskan bagaimana menciptakan peran diplomasi yang mempermudah pembangunan Internasional dengan memperkuat diplomasi publik untuk dapat membantu pemerintah membangun Negara. Mengapa diplomasi publik?. Karena publik melibatkan state actor dan Non-state actor yang berperan kuat untuk menciptakan solusi dalam rangka mencapai kepentingan nasional.

3 Polular Tipe Diplomasi Dan Distater Diplomacy

Terdapat 3 polular tipe diplomasi yaitu big stick diplomacy yaitu diplomasi yang mengandalkan hard power seperti militer. Yang kedua adalah Dollar Diplomacy yang dimana mengunakan kekuatan finansial untuk memperluas pengaruh internasionalnya. Untuk yang terakhir ialah Moral diplomacy untuk mendukung ideologi yang sama contohnya ialah Indonesia yang menolak untuk membuka kedutaan besar RI di Israel. Dikarenakan alasan ideologi dan keberpihakan Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Strategi diplomasi bisa dilakukan dengan memberikan foreignaid yang membentuk citra suatu negara. Sebagai contoh Tiongkok memberikan bantuan kepada Afrika Selatan dalam pembangunan infrastruktur sehingga citra Tiongkok membentuk soft power sebagai media berdiplomasi.

Apa itu distater diplomacy?. Keadaan dunia sedang disibukkan dengan suatu  masalah yang sangat berdampak besar baik dari segi ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Yaitu corona virus yang berawal dari China tepatnya di kota Wuhan namun merebak keseluruh dunia. Dengan ini China menjalankan distater diplomacy agar mengurangi attention atau ketegangan dari Negara-negara lain tentang virus corona. Karena China beranggapan bahwasanya ini mrupakan persoalan bersama bukan hanya akibat dari China sendiri.

Berani dan just speak out your mind

“Saya belajar leadership bagaimana cara mengambil inisiatif, proaktif, karena saya orangnya introvert (pemalu) tapi kita tetap harus belajar untuk bisa berkembang, belajar riset, menulis terstruktur, public speaking apalagi anak HI penting untuk berwawasan luas” ungkap beliau. Karena menurut beliau belajar leadership itu penting untuk mengasah agar melakukan perubahan-perubahan kecil menjadi leader. Kuncinya ialah  just speak out your mind agar selalu berlatih untuk menjadi berani. Misi beliau ialah menjadi University to University diplomacy yaitu internasionalisasi perguruan tinggi agar perguruan tinggi di Indonesia siap berdaya saing dengan Universitas di luar negeri dari segi kualitasnya.

Mabit Janissary 2020 | Sarana Mahasiswi Hubungan Internasional dalam Meningkatkan Nilai Ketaqwaan

Salah satu rentetan program yang diadakan oleh Divisi Spiritual Janissary Program 2020 ialah Malam Bina dan Takwa (Mabit). Kegiatan tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 17 – 18 September dengan sasaran mahasiswi Semester 1 dan 3. Kedua pada tanggal 1 – 2 Oktober 2020 yang diikuti oleh mahasiswi Semester 5 dan 7.

Mabit yang dilaksanakan untuk mahasiswi HI semester 1 dan 3, Divisi Spiritual Janissary Program bekerjasama dengan HMP Hubungan Internasional. Sedangkan untuk MaBiT bagi semester 5 dan 7 hanya Divisi Spiritual Janissary Program sebagai penanggungjawab. Oleh karena itu, ada perbedaan kegiatan MaBiT antara semester 1 dan 3 dengan 5 dan 7.

MabiT #1

Kegiatan Mabit semester 1 dan 3 dibuka dengan kegiatan sholat Maghrib dan Sholat Isya berjamaah di kelas terbuka. Kemudian peserta melaksanakan kumpul bersama HMP untuk memberikan penghargaan bagi mahasiswi Hubungan Internasional yang memiliki semangat lebih dalam melakukan sholat berjamaah di Masjid. Penghargaan tersebut diberikatn kepada  Lutfiaturriza (HI-3), Afifah Nur Haliza (HI-1) dan Nita Oktavia (HI-3).

Perkumpulan HMP kemudian dilanjutkan dengan Review Film “Dunkrik”. Film tersebut mengambil latar belakang Perand Dunia II yang berkisah tentang aksi penyelamatan 300 tentara sekutu dari 4 Negara, yakni Inggris, Perancis, Belgia dan Belanda. Nama Dunkrik diambil dari nama tempat tentara-tentara diasingkan yakni Dunkrik, Perancis.

Paginya, para peserta Mabit #1 melaksanakan sholat tahajjud dan sholat shubuh berjamaah. Setelahnya para peserta kembali berkumpul untuk melakukan Sharing Section bersama pengurus HMP. Kegiatan Mabit #1 kemudian ditutup dengan kegiatan olahraga bersama di depan Gedung Granada.

Mabit #2

Sama dengan Mabit #1, kegiatan Mabit #2 dibuka dengan sholat berjamaah di kelas terbuka. Kegiatan kemudian lanjutkan dengan Webinar “Keseimbangan Peran Wanita antara Karir dan Keluarga” oleh al-Ustadzah Novi Rizka Amalia, M.A melalui Zoom Meeting

Ustadzah Novi Rizka Amalia memaparkan bahwa sebagai perempuan, kita harus bisa menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Terutama ketika seorang perempuan sudah menikah, mengesampingkan keluarga dibanding karir bukan perilaku yang bijak karena menjadi ibu dan istri adalah tugas utama seorang perempuan. Begitupun, kita sebagai perempuan ketika telah berkeluarga dituntut untuk berkarir agar bermanfaat bagi masyarakat ilmu yang kita miliki.

Maksud karir yang dijelaskan Ustadzah Novi tidak hanya berkaitan dengan dunia kerja. Namun segala kegiatan di masyarakat yang membawa manfaat dan perubahan. Oleh karena itu, sebagai manusia tidak peduli laki-laki dan perempuan harus terjun ke masyarakat sebagai bentuk tanggung jawabnya di masyarakat.

Kegiatan berlanjut dengan Sholat Isya kemudian peserta Mabit #2 mengikuti Muhasabah diri dengan review film Pondok Indah di gedung Granada. Menonton film menjadi media muhasabah yang dipilih oleh Divisi Spiritual karena nilai-nilainya lebih mudah diterima mahasiswi. Setelah menonton film, para peserta berdiskusi terkait nilai-nilai yang mereka dapatkan.

Acara Mabit #2 ditutup dengan sholat tahajjud dan sholat shubuh berjamaah di kelas terbuka. Dilanjutkan dengan kajian shubuh bersama Ustadzah Yusrina Dyah Wulandari, M.Ag. dengan tema Hukum Haid dan Aurat dalam Fiqih Wanita. Pembahasan yang dibawa Ustadzah Yusrina sangat penting untuk diketahui mahasiswi. Karena masih banyak dari mahasiswi yang belum mengetahui hakikat hukum dan rumus haid serta batasan aurat bagi sesama wanita.

Harapan diselenggarakannya MaBiT

Dari segala kegiatan yang dilaksanakan dalam program Hubungan Internasional, tujuan yang hendak dicapai oleh Divisi Spiritual ialah meningkatkan nilai ketakwaan mahasiswi Hubungan Internasional dengan kegiatan intelektual seperti diskusi bersama, kajian shubuh dan review film. Selain meningkatkan nilai ketakwaan, harapan Divisi Spiritual lainnya ialah meningkatkan nilai kebersamaan antar semester mahasiswi Hubungan Internasional melalui kegiatan diskusi dan sholat berjamaah.